Songket Minang, Halus dan Kaya Makna



Berdasarkan Permintaan dari pengunjung kemarin, admin telah memposting arikel tentang songket minang,,smemoga bermanfaat!
Revitalisasi Songket Minangkabau yang sudah lebih 100 tahun tidak diproduksi lagi karena kelangkaan penenun, membuahkan hasil yang mengagumkan. Walaupun contoh yang ada hanya sepotong kain songket tua yang lusuh dan tidak utuh, ketika diproduksi lagi dalam bentuk utuh, ternyata songket Minang sangat halus dan motifnya kaya makna, yang menggambarkan filosofi orang Minang.
Kenyataan itu diungkapkan Bernhard Bart, arsitek yang menyukai tenunan songket dan merevitalisasi songket-songket lama Minangkabau, Senin (10/9) di Padang. “Kain songket Minang, seperti songket Basa Hitam asal Sungayang, Kabupaten Tanahdatar, mempunyai corak yang luar biasa rumit dan unik,” katanya.

Uniknya, songket Basa Hitam ditenun dengan sisi kain yang dibalik, di mana yang bagusnya ke bawah. Galibnya corak lama songket Minangkabau tempo dulu memang ditenun dengan teknik seperti ini. Sehingga kedua sisi songket sama bagusnya.

Menurut Bernhard, dari penelitiannya di India, Thailand, Laos, dan Indonesia, dan berbagai negara di Asia lainnya, mempertegas keyakinannya bahwa songket Minangkabau memiliki keunikan dan penuh makna.

“Setiap corak yang ada dalam songket Minangkabau mengemban demikian banyak makna filosofis tentang ajaran dan nilai kehidupan manusia Minangkabau,” jelasnya.
Kekuatan kultural masyarakat Minangkabau, lanjut Benrhard yang 10 tahun meneliti tenunan songket, bersemayam di bentangan kain songket hasil tenunan anak nagari Minangkabau. Sedangkan di daerah lain dan juga di daerah-daerah lain corak songket hanya sebagai ornamen atau pun hiasan saja.

Seniman Alda Wimar mengatakan, apa yang dilakukan Bernhard Bart memang menakjubkan. Beberapa corak songket lama Minangkabau yang pernah berkembang dan menjadi simbol kultural Minangkabau yang penuh ajaran dan nilai kearifan itu, kini berhasil dikembangkan, direvitalisasi, dan direplika.

“Saya kagum dengan Bernhard yang 10 tahun terakhir sangat intens meneliti corak-corak songket lama Minangkabau. Apa yang dilakukannya memang menakjubkan,” ujar Alda.

Menurut Alda, yang serius mencermati motif-motif pada belasan songket hasil revitalisasi, kalau kita menguasai bahasa senirupa, maka dapat memahami simbol-simbol yang ditenun pada songket. Misalnya ada motif Pucuak Rabuang (pucuk bambu muda). Dalam filosofi Minang; ketek paguno, gadang tapakai (kecil berguna, besar terpakai), yang artinya sewaktu muda sudah berguna dan di masa tua menjadi lebih bermanfaat.

Dari motif tersebut dapat dipelajari bahwa bambu ketika sudah menjadi batang yang tinggi pucuknya selalu merunduk ke bawah. Ini melambangkan kekuatan tanpa kesombongan, salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

“Makna tersirat dari motif Pucuak Rabuang yakni pemimpin yang kuat dan mempunyai kharisma tinggi tentu disegani masyarakatnya,” ungkap Alda, yang baru mengidentifikasi sedikitnya 30 dari sekitar 90 motif songket Minangkabau. (Yurnaldi)
Sumber: http://www.kompas.com

0 komentar:

Posting Komentar

Daftar Isi

Arsip

Who Online

 

Andrey Suwe. Copyright 2009 All Rights Reserved Andrey-SW by SMALTI-IGMBoeSeDho.NET